Selasa, 28 Mei 2013

Makalah Planning



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Pendahuluan
Selama masa hidupnya orang lebih banyak bersosialisasi di sekitar lingkungannya daripada menyendiri. Pada dasarnya orang tidak mampu hidup sendiri.  Hampir sebagian besar tujuannya hanya dapat terpenuhi apabila yang bersangkutan berhubungan dengan orang lain. Dengan kata lain semua manusia harus mempunyai tujuan hidup yang direncanakan terlebih dahulu. 

Dalam ruang lingkup kegiatan, suatu organisasi memerlukan suatu perencanaan yang merupakan bagian terpenting , karena perencanaan adalah proses pengambilan keputusan yang mengembangkan dan menyeleksi sekumpulan kegiatan untuk menyelesaikan suatu masalah.
Adapun strategi yang salah satu program untuk mencapai tujuan organisasi dalam mencapai misi agar organisasi memiliki dasar yang membedakan organisasi dari organisasi lainnya. Ditetapkan pula tujuan dari organisasi  yang memiliki fungsi penting sebagai sumber motivasi bagi anggotanya yang berada dalam lingkungan organisasi tersebut.
B.     Rumusan Masalah
1.         Pengertian perencanaan
2.         Dalil perencanaan dan tipe-tipe perencanaan
3.         Manfaat dan kelemahan perencanaan
4.         Tujuan perencanaan




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Perencanaan (Planning)
Suatu usaha perorangan atau organisasi pasti membutuhkan suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan bersama yang hendak dicapai. Perencanaan juga tidak hanya dibutuhkan pada suatu instansi atau organisasi saja melainkan kita juga memerlukan suatu perencanaan. Perencanaan itu sendiri menurut Tjokroamidjojo (1992,12)  suatu cara bagaimana mencapai tujuan sebaik-baiknya dengan sumber-sumber yang ada supaya lebih efisien dan efektif. Dikatakan juga perencanaan merupakan penentuan tujuan yang akan dicapai atau yang akan dilakukan, bagaimana mencapai hal tersebut, oleh siapa, lokasi aktivitas, kapan akan dilakukan dan sumber daya yang dibutuhkan . Perencanaan  juga merupakan proses dasar yang digunakan untuk memilih tujuan dan cara pencapaiannya. . Setiap rencana akan memberi titik point tersendiri terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Dapat disimpulkan bahwa perencanaan adalah suatu kegiatan awal yang dilakukan oleh pemimpin (instansi atau organisasi) untuk melaksanakan tujuan bersama yang hendak dicapai.
Perencanaan adalah yang utama, maksutnya mendahului semua fungsi manajemen. Menurut G.R. Terry dalam bukunya “Principle Of Management” fungsi manajemen ada empat yaitu planning, organizing, actuating, dan controlling. Semua fungsi tersebut dapat dilaksanakan apabila perencanaan sudah ditetapkan terlebih dahulu dan mereka juga saling berkesinambungan antara satu fungsi dengan fungsi yang lainnya. Logikanya perencanaan mendahului semua fungsi manajemen.
Menurut Stoner, kegiatan perencanaan terbagi menjadi empat tahap diantaranya:[1]
*      Menetapkan serangkaian tujuan
Perencanaan dimulai dengan menetapkan keputusan-keputusan tentang apa yang akan dibutuhkan oleh suatu instansi atau organisasi. Tanpa menetapkan tujuan yang jelas maka penggunaan sumber daya akan tidak efektif sehingga akan menyebabkan kinerja yang kurang memuaskan. Sebaliknya jika tujuan jelas maka penggunaan sumber daya akan efektif.
*      Merumuskan keadaan sekarang
Dengan mengganalisis kondisi instansi atau organisasi saat ini, maka dapat dirumuskan juga rencana kegiatan selanjutnya.
*      Identifikasi segala kemudahan dan hambatan
Disamping merumuskan suatu rencana yang akan ditetapkan maka seorang direktur utama beserta staf-stafnya harus mengetahui apa yang akan dihasilkan dan apa resiko dari kegiatan tersebut.
*      Mengembangkan serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan
Semua pengembangan kegiatan tersebut dipilih satu alternative terbaik untuk mencapai tujuan dari berbagai alternative yang ada.

B.     Dalil perencanaan dan tipe-tipe perencanaan
Dalam Qur’an surat Al-Hasyr ayat :18 menyebutkan bahwa :
“Hai Orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Kandungan ayat tersebut memberikan suatu penjelasan tentang pentingnya perencanaan dikemudian hari. Setiap manusia harus mempunyai rencana pada hari esok yang lebih baik sebelum mereka menjalani hidupnya.
Segala sesuatu pastinya telah direnacanakan, tidak ada sesuatupun yang tidak direncanakan. Bahkan usia manusia saja telah direncanakan. Jika Allah saja telah menyusun perencanaan dalam segala sesuatu, maka kita pun harus menyusun perencanaan yang matang dalam melakukan pekerjaan.  Perencanaan yang akan dilakukan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada masa lampau, saat ini, serta prediksi masa datang.[2]
            Perencanaan tersendiri dapat digolongkan dalam beberapa metode yang berbeda. Yang menentukan berhasil atau tidaknya suatu perencanaan tergantung dengan metode perencanaan yang digunakan.
            Adapun lima pengklasifikasian rencana sebagai berikut :[3] 

  1. Bidang Fungsional mencakup rencana produksi, pemasaran, keuangan, dan personalia 
  2. Tingkatan Organisasional mencakup keseluruhan organisasi, teknik-teknik dan isi perencanaan. 
  3. Karakteristik rencana mencakup factor kompleksitas, fleksibilitas, keformalan, kerahasiaan, biaya, rasionalitas, kuantitatif, dan kualitatif 
  4. Waktu mencakup rencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang. 
  5.  Unsur rencana mencakup wujud anggaran, program, prosedur, dan kebijaksanaan.

            Dalam suatu organisasi rencana digolongkan melalui tingkatan yang membentuk hirarki dan paralel dengan struktur organisasi. Rencana mempunyai dua fungsi yaitu menyediakan peralatan untuk pencapaian serangkaian sasaran dari rencana tingkatan di atasnya, dan sebaliknya menunjukkan sasaran yang harus dipenuhi rencana tingkatan dibawahnya. Dua tipe utama rencana antara lain :[4]
1.      Rencana Strategik yaitu memenuhi tujuan-tujuan organisasi yang lebih luas untuk mengimplementasikan misi suatu organisasi dan memberikan pedoman pemanfaatan sumber daya-sumber daya organisasi yang digunakan untuk mencapai tujuan.
2.      Rencana Operasional yaitu penguraian terperinci bagaimana rencana strategic akan dicapai. Rencana trategik dikembangkan lebih luas.



C.    Manfaat dan Kelemahan Perencanaan
            Adapun manfaat dari perencanaan antara lain :[5]
1.      Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan
2.      Membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama
3.      Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas
4.      Membantu penempatan tanggung jawab lebih cepat
5.      Memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi
6.      Memudahkan dalam melakukan koordinasi diantara berbagai bagian organisasi
7.      Membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami
8.      Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti
9.      Menghemat waktu usaha dan dana
            Jika ada kelebihan pastinya adapula kelemahan yang dimiliki oleh suatu perencanaan antara lain :
1.      Pekerjaan yang tercakup dalam perencanaan mungkin berlebihan pada kontribusi nyata
2.      Perencanaan cenderung menunda kegiatan
3.      Perencanaan terlalu membatasi manajemen untuk berinisiatif dan berinovasi
4.      Hasil yang baik didapat dari penyelesaian situasi individual dan penanganan setiap masalah pada saat masalah tersebut terjadi
5.      Ada rencana-rencana yang diikuti cara-cara yang tidak konsisten
            Meskipun perencanaan mempunyai kelemahan, manfaat yang didapat dari perencanaan jauh lebih banyak. Oleh karena itu perencanaan tidak hanya seharusnya dilakukan melainkan harus dilakukan.

D.    Tujuan Perencanaan
Stephen Robbins dan Mary Coulter mengemukakan banyak tujuan perencanaan. Tujuan pertama adalah untuk memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan nonmanajerial. Dengan rencana, karyawan dapat mengetahui apa yang harus mereka capai, dengan siapa mereka harus bekerja sama, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa rencana, departemen dan individual mungkin akan bekerja sendiri-sendiri secara serampangan, sehingga kerja organisasi kurang efesien.
Tujuan kedua adalah untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika seorang manajer membuat rencana, ia dipaksa untuk melihat jauh ke depan, meramalkan perubahan, memperkirakan efek dari perubahan tersebut, dan menyusun rencana untuk menghadapinya.
Tujuan ketiga adalah untuk meminimalisir pemborosan. Dengan kerja yang terarah dan terencana, karyawan dapat bekerja lebih efesien dan mengurangi pemborosan. Selain itu, dengan rencana, seorang manajer juga dapat mengidentifikasi dan menghapus hal-hal yang dapat menimbulkan inefesiensi dalam perusahaan. Tujuan yang terakhir adalah untuk menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya, yaitu proses pengontrolan dan pengevalusasian. Proses pengevaluasian atau evaluating adalah proses membandingkan rencana dengan kenyataan yang ada. Tanpa adanya rencana, manajer tidak akan dapat menilai kinerja perusahaan. Selain keempat hal tersebut, sebagian besar studi menunjukan adanya hubungan antara perencanaan dengan kinerja perusahaan.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Perencanan adalah suatu kegiatan awal yang dilakukan oleh pemimpin (instansi atau organisasi) untuk melaksanakan tujuan bersama yang hendak dicapai. Perencanaan yang akan dilakukan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada masa lampau, saat ini, serta prediksi masa datang. Dalil yang menerangkan tentang perencanaan yaitu surat qur’an al-hasyr ayat 18 yang notebenenya setiap manusia harus mempunyai rencana untuk hari esok yang lebih baik.
      Adapun manfaat dan kelemahan perencanaan yang sudah dibahas dalam bab sebelumnya merupakan perencanaan tidak hanya seharusnya dilakukan melainkan harus dilakukan.
Dalam melakukan perencanaan terdapat beberapa tujuan yaitu untuk memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan nonmanajerial, untuk mengurangi ketidakpastian, untuk meminimalisir pemborosan, dan untuk menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya, yaitu proses pengontrolan dan pengevalusasian.

B.     Daftar Pustaka
Agus Sabardi, Pengantar Manajemen, Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, Yogyakarta, 2001
Didin Hafidhuddin, Manajemen Syariah dalam Praktik, Gema Insani Press, Jakarta,2003
T. Hani Handoko, Manajemen Edisi Kedua, BPFE. Yogyakarta, Yogyakarta, 2002


[1] Agus Sabardi, Pengantar Manajemen, Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, Yogyakarta, 2001, hlm. ……
[2] Didin Hafidhuddin, Manajemen Syariah dalam Praktik, Gema Insani Press, Jakarta,2003, hlm. 78-79
[3] T. Hani Handoko, Manajemen Edisi Kedua, BPFE. Yogyakarta, Yogyakarta, 2002, hlm. 84-85
[4]Agus Sabardi, Pengantar Manajemen, Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, Yogyakarta, 2001, hlm hlm.85
[5] Op.cit. hlm. 81-82

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar